Kamis, 02 Juni 2011
Aktifitasku Slideshow
Selasa, 31 Mei 2011
MEMUTUS DIKOTOMI ILMU PENGETAHUAN UPAYA MEMBANGUN DUNIA YANG LEBIH BERADAB

Ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang sangat cepat sehingga pencapaian hari ini mungkin tidak terlintas dalam pikiran manusia di era sebelumnya, dengan akal dan pikiran serta semakin baiknya gizi serta fasilitas dan sumber pembelajaran membuat kreasi manusia menjulang tinggi. Interaksi manusia terhadap ilmu-ilmu pasti menjadikan objek kajian menjadi kian luas bahkan merambah ke dalam dimensi ilmu sosial sehingga tidak heran banyak ilmuan yang bermaksud menggiring ilmu alam menjadi pusat ilmu pengetahuan (center of knowledge) dengan justifikasi yaitu ketika ilmu alam dapat menemukan jalan keluar terhadap permasalahan manusia hal ini juga dapat diperlakukan pula untuk ilmu-ilmu social Karena pencapaian ilmuan ilmu pasti jauh meninggalkan pencapaian ilmu-ilmu sosial.
Paham positivistic yang menjadikan ilmu pasti (ilmu-ilmu alam) sebagai primadona tentu saja merambah kedalam bangunan institusi pendidikan di segala jenjang dan lini sehingga tidak heran kiranya ketika melihat sekolah-sekolah serta perguruan tinggi yang menawarkan jurusan serta fakultas ilmu pasti (ilmu-ilmu alam) pasti ramai peminat sedangkan sekolah-sekolah serta universitas jurusan ilmu sosial menjadi sepi. kebijakan pemerintah dalam pembangunan bidang pendidikan pun menjadikan mata pelajaran ilmu pasti sangat di idolakan semisal matematika, fisika, kimia, biologi dan lain sebagainya. Fasilitas-fasilitas pendukung gencar diberikan seperti laboratarium, serta fasilitas lainnya semata untuk membuat siswa atau mahasiswa menjadi mudah mengkaji fenomena yang menjadi objek study. Berbanding terbalik dengan kondisi di lembaga ilmu-ilmu sosial yang sangat terkesan kurang di urus serta minim fasilitas pada dampak berikutnya menjadikan kajian ilmu sosial sangat tertinggal jauh dibanding ilmu-ilmu alam.
Dikotomi antara ilmu pasti dengan ilmu sosial sudah sedemikian jauh memisahkan diri seolah-olah suatu hal yang sangat berbeda sama sekali sehingga tidak perlu saling bertegur sapa satu sama lainnya, dan alam pikiran sebagian besar kita pun terasuki paham ini sehingga ketika ada anak yang sangat menyukai ilmu-ilmu pasti sangat berbangganya orang tua, namun ketika anak yang gandrung dengan ilmu sosial maka orang tua akan memberikan proteksi dengan alasan ilmu sosial tidak menjamin masa depan dan kesejahteraan.
Kalau kita Menjelajah kemasa lampau ketika ilmu pengetahuan mulai berkembang terutama di peradaban yunani, tidak dapat dinafikan para pemikir yunani berawal dari ketakjuban terhadap alam semesta sehingga mereka melandaskan kajian filosofisnya terhadap alam, mereka mengkaji realitas pembentuk alam semesta ada yang berpendapat alam berasal dari air, udara, api dan tanah. Thales, heraklitos, plato, aristoteles dan pemikir lainnya menjadikan alam sebagai kajian awalnya, namun kemudian dalam proses selanjutnya mereka berpikir bahwa apa gunanya memikirkan alam semesta (makrokosmos) sedangkan manusia merupakan alam lainnya (mikrokosmos) masih diselimuti misteri sehingga mereka menjadikan manusia berikut dengan realitas yang melingkupinya sebagai kajian utama, sampai di kuil DELFI terpahat ungkapan “kenalilah dirimu” menunjukan ketakjuban para filosof tersebut dengan alam kecil yaitu manusia.
Penulis sengaja hadirkan hal tersebut diatas sebagai pemikiran kita bersama ternyata secara histories kajian tentang manusia menjadi kajian utama, sehingga ketika saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang cepat dan melupakan manusia sebagai subjek dan objek berarti telah terjadi ketimpangan pemikiran, manusia yang didalamnya terkandung unsure-unsur alam sejatinya musti dipahami dengan berbagai kearifan, karena didalam tubuh manusia juga terkandung unsureunsur keilahian yaitu roh. Sehingga pemahaman akan manusia tidak berhenti pada aspek-aspek fisik semata namun harus berkembang lebih jauh lagi, karena ketika manusia hanya dipahami sebagai fisik berarti telah mereduksi manusia seperti robot.
Seperti yang banyak di ungkapkan para pemikir besar kemanusiaan, saat ini walaupun ilmu pengetahuan dan teknologi berhasil membuat pencapaian yang mengagumkan namun perilaku manusia tidak juga kunjung berubah, perilaku primitive masih sangat mendominasi alam pikiran manusia sehingga kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan tangan-tangan manusia telah jelas tergambarkan. Penemuan bom atom ternyata di ikuti dengan pembunuhan massal, ribuan orang jepang meninggal akibat bom yang dijatuhkan tentara sekutu ke kota hirosima dan Nagasaki, penemuan pupuk-pupuk an-organik menyebabkan kerusakan kesuburan tanah, barang-barang elektronik serta polusi yang ditimbulkan kendaraan buatan manusia menyebabkan menipisnya lapisan ozon dengan akibat lanjutannya adalah terjadinya pemanasan global seperti yang kita rasakan saat ini, penemuan internet serta media komunikasi dan informasi lainnya menjadikan munculnya kejahatan-kejahatan serta kerusakan dalam bentuk-bentuk yang lebih canggih. Demikianlah bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi disatu sisi merupakan suatu hal yang patut disyukuri namun disisi yang lain manusia berkecenderungan menjadi lebih jahat baik terhadap dirinya sendiri, sesamanya maupun terhadap alam sekitarnya.
Asumsi yang patut di ajukan apakah manusia sudah melupakan kediriannya, dan sibuk dengan sesuatu yang diluar dirinya. Manusia tidak lagi memikirkan segala akibat dari tindak tanduknya yang dipentingkan adalah bagaimana memikirkan diri sendiri dan memupuk kesenangan sebanyak-banyaknya, manusia menjadi lebih individualis serta menanggalkan instrument kemanusiaannya yaitu sebagai makhluk sosial. Kebutuhan-kebutuhan fisik dipenuhi namun kebutuhan akan spritualitas yang merupakan kebutuhan roh dalam dirinya tidak terpenuhi, sehingga kekosongan menghampiri jiwa manusia dan manusia mengalami alienasi (keterasingan) terhadap diri dan lingkungannya.
Penting kiranya dijadikan bahan pemikiran bagaimana paradigma ilmu pengetahuan yang sangat dikotomis antara eksak versus sosial serta anti agama perlu didamaikan dalam paham integralistik dan interdisipliner. Egoisme ilmu eksak yang merasa paling benar sudah musti diakhiri karena pada akhirnya manusia pun menjadi entitas yang sangat menentukan dalam pencapaian kemajuan, tidak ada artinya ketika ilmu pengetahuan dan teknologi berkembang cepat namun manusia menjadi pribadi-pribadi yang individualistic, oleh sebab itu semua kekuatan yang ada musti dibangun, kesatuan dan kesepahaman bagaimana membangun masa depan kemanusiaan yang lebih beradab, damai dan menghargai sesama serta peduli terhadap alam, egoisme manusia yang merasa alam adalah suatu hal yang musti ditundukkan dan di eksploitasi hanya membuat kehancuran alam menjadi semakin nyata. Manusia yang dilahirkan dari ilmu pengetahuan yang egoistic adalah manusia pembunuh serta manusia perusak. Dalam implementasinya di pendidikan formal, mengidolakan ilmu pengetahuan tertentu serta menganggap rendah ilmu pengetahuan yang lain pun musti dirubah. Orang tua tidak lagi merasa kecewa karena anaknya lebih berminat pada bidang study tertentu karena setiap ilmu pengetahuan pada dasarnya diharapkan dapat menjadi solusi terhadap kerusakan alam semesta yang kian parah ini.
Minggu, 29 Mei 2011
REFLEKSI UNTUK ELITE BANGSA

Beribu pertanyaan terbiarkan mengambang di public sehingga misteri menjadi kata yang juga dipakai dalam bahasa politik bangsa, misteri bukan hanya berkaitan dengan sesuatu yang berdimensi mistis tapi juga berkaitan dengan pertunjukan politik yang tidak memiliki alur tapi memiliki agenda-agenda tersembunyi, secara kasat mata terlihat hanyalah pertemuan-pertemuan biasa namun dibalik nya berhamburan bahasa pragmatisme untuk membicarakan bagi-bagi kekuasaan. Itulah misteri politik yang terkadang tidak mampu tertangkap oleh rakyat karena ditutupi dengan indahnya kata-kata retoris. Suatu gambaran betapa nalar dasariah dalam mekanisme demokrasi yaitu rakyat yang menjadi pemegang utama kedaulatan diabaikan, nalar yang dipakai adalah nalar kepentingan kelompok. Karena sejatinya defenisi politik yang dipakai elite bangsa adalah “upaya untuk memperoleh kekuasaan baik dengan cara legal maupun tidak legal” kepentingan kekuasaan adalah utama walau balutan baju partainya mengatas namakan agama, nasionalisme dan lain sebagainya. Karena jargon ideology hanyalah jargon semu untuk membentuk citra semu tapi sejatinya tidak menjadi jiwa seluruh anggota dari suatu komunitas politik (baca partai).
Demi bangsa dan negara, demi rakyat….demikian sekelumit kata-kata populer yang dijadikan kosakata wajib politisi, padahal rakyat tidak lebih dipandang sebagai suatu gambaran angka-angka yang berlabel 1,2 dan seterusnya untuk menjadi suara yang harus diraih, dengan menggunakan segala macam cara sehingga ruh dari suara rakyat yang hakiki tidak mendapatkan ruang dalam logika. Karena pikiran yang berkecamuk adalah bagaimana tujuan-tujuan jangka pendek dapat tercapai hal yang berkait dengan persoalan hubungan jangka panjang dengan rakyat menjadi tidak penting, karena rupiah-rupiah yang dikeluarkan menjadi pengganti dari cara berhubungan dengan rakyat.
Budaya paternalistic yang tidak bisa hilang dalam budaya bangsa menjadikan setitik yang datang dari atas (pemimpin) akan dirujuk dan di rebut untuk dijadikan milik dikalangan bawah, suatu hubungan patron vs client yang tetap terpelihara dan melembaga. pada suatu masa yang di “atas” mampu memberikan ketauladanan maka dibawah akan memperkuat energi untuk merubah kearah yang lebih baik, tapi ketika pada masa kelam dengan tontonan “orang-orang diatas” melakukan kejahatan baik secara terang maupun sembunyi-sembunyi maka energi negatif yang ditimbulkannya akan mengalir deras kebawah sehingga banjir energi negatif akan membawa ketenggelaman rakyat dalam masa yang “hitam”.
Padahal Ketika bangsa ini masih sangat “mudanya” para pendiri bangsa (founding father and mother) sangat mendekat dengan emosi-emosi terdalam rakyat karena pemimpin hidup tanpa batas-batas sekat birokrasi dengan rakyatnya sehingga arus suara dari bawah dipantul kuat dan nyaring dalam dialektika politisi ketika itu, didukung budaya pendidikan saat itu yang mempertegas sikap pembelaan terhadap bangsa sehingga ideology perlawanan menjadikan solidaritas antar elemen walau berbeda warna ideology tidak menjadi penghalang untuk membangun sesuatu yang lebih besar daripada kepentingan kelompok yaitu kepentingan bangsa dan negara, sehingga politik adalah bahasa dari perjuangan bangsa, ketauladanan-ketauladanan yang di tunjukan menjadikan kepercayaan rakyat terhadap pemimpin bangsa begitu tinggi sehingga gerakan bersama untuk mencapai tujuan bangsa berjalan secara massif dari atas kebawah, dari samping atau kedepan sehingga pada masa itu harta benda bahkan nyawa rela diberikan demi bangsa.
Namun sayangnya itu semua adalah masa lalu yang membekas indah dalam catatan sejarah perjalanan bangsa, karena ketika kini situasinya sangat jauh berbeda yang ada adalah politik menjadi wadah untuk meraih kekuasaan semata untuk mencapai tujuan-tujuan materialistic, sehingga politik adalah kata lain dari kriminalitas yang menjadikan politik menjadi daerah yang mengerikan untuk didekati karena mendekatinya membuat bulu kuduk merinding karena banyaknya serigala-serigala penghisap darah rakyat.
Mekanisme demokrasi seperti pemilu hanya dijadikan batu pijakan untuk naik dalam tingkatan berikutnya, ketika semuanya sudah diraih maka pesta pora kesenangan akan dirayakan sedangkan tangis kedukaan rakyat hanya melintasi ruang dengar elite, suara rakyat sangat terdengar pelan karena telinga ditutup dengan target-target mengejar kekayaan dan kekuasaan. Ketika suasana yang terbangun tidak kunjung berubah maka hanya kekaburan yang didapat, berganti pemimpin bangsa tidak juga menjadi kan rakyat lebih sejahtera maka perlawanan-perlawanan muncul secara diam dan tersembunyi, karena tangan rakyat adalah ketidaknampakan, dalam fakta pisik rakyat diam namun dalam pikiran dan tindakan, rakyat menjadi pembangkang terhadap anjuran-anjuran pemimpinnya, pragmatisme yang menjadi kebiasaan pemimpin maka rakyat akan lebih pragmatis, itulah suatu balasan yang diberikan rakyat atas ketidakpedulian pemimpinnya terhadap realitas rakyat.
Rakyat menjadi jenuh dengan segala perhelatan pemilihan pemimpin karena tidak juga datang angin perubahan, masih begitu banyak bertebaran orang miskin disetiap penjuru negeri, masih begitu banyak orang tua yang tidak dapat menyekolahkan anaknya dikarenakan ketiadaan biaya, masih begitu menumpuk pemuda-pemuda putus sekolah yang menganggur sehingga klaim keberhasilan pemimpin negara hanya berada dalam ruang kosong dan menjadikan kesakitan mendalam bagi rakyat, karena fakta direduksi oleh kepentingan-kepentingan pencitraan, data-data dibuat hanya untuk menyenangkan atasan sehingga akan muncullah kebanggaan bahwasanya pemerintahan telah berhasil. notabene dalam kondisi sedemikian segala macam media saluran untuk menumpahkan suara-suara keberhasilan versi penguasa akan bertebaran menutupi keboborokan yang sejatinya adalah fakta.
Rakyat sengaja dibuat bodoh untuk menerima apapun yang nampak tanpa pernah diajak untuk berpikir alternative untuk melihat kelemahan-kelemahan yang ada, keberhasilan menjadi senjata canggih untuk mendapatkan simpati rakyat. Diluar penguasa yang menjabat muncullah tandingan-tandingan opini terhadap kelemahan, sengaja dirancang suatu dialektika untuk menjatuhkan dan “menghabisi” penguasa yang berkuasa, namun track record (jejak rekam) masa lalu terlupakan. Ketika memimpin tidak didapat suatu fakta keberhasilan malahan banyak asset negara dijual, di tempat yang lainnya muncul penantang yang sejatinya berasal dari sistem yang sama dengan penguasa hari ini, namun kecewa karena dianggap hanya dijadikan bumper padahal belum tentu fakta yang diungkap selaras dengan kenyataan yang terjadi, ditambah lagi pasangan-pasangan pendamping yang memiliki berbagai kasus pelanggaran HAM yang tidak pernah tuntas sampai saat ini. Rakyat sengaja dibuat lupa terhadap masa lalu sehingga apa yang ada seolah-olah baru padahal hakikatnya adalah barang lama.
Dinasti yang kuat tertancap di dalam partai-partai tidak memungkinkan munculnya figure-figur baru, yang ada hanyalah keturunan-keturunan yang sengaja diorbitkan untuk menggantikan sang ayah atau sang mama pemimpin partai, terus saja diciptakan suatu kebijakan putra dan putri mahkota dengan alasan partai tidak memiliki figure, diamnya anggota semakin menegaskan bahwa ada kesetujuan terhadap pilihan pemimpin partai. Entah perlu puluhan atau mungkin ratusan tahun rantai-rantai bisa putus untuk memunculkan figure-figur baru yang lebih segar dan memiliki visi yang mumpuni demi membangun bangsa.
Ridwansyah
Ketua PKSPM Kalimantan Barat
Member JCI Kalbar
Jumat, 27 Mei 2011
Minggu, 03 April 2011
ulang tahun ku
Untuk para sahabatku terimakasih atas ucapannya semoga tuhan selalu meridhai Allah SWT
